Kenari Melayu Jangan Dipelihara Ya, Bahaya!!!



Kenari Melayu, majalahhewan.com | Salah satu jenis burung kenari yang akan kita lihat kali ini adalah burung kenari lokal, akan tetapi bukan burung kenari loper ya ( lokal super).

Setelah kicau mania mengenal burung kecil ini, jangan coba coba berniat untuk membeli bahkan memeliharanya ya.

Meskipun harga yang ditawarkan murah serta memiliki kualitas kicau yang bagus (gacor).

Bahaya!!!



Kenapa?

Karena burung kenari asli indonesia ini mulai langka, bahkan bisa saja terancam punah.

Gambar Burung Kenari
Gambar Burung Kenari Gunung atau Melayu By : commons.wikimedia.org

Tau sendirilah jika harus berurusan dengan hukum, karena dalam terbitan Peraturan Menteri LHK yang baru ini, memasukan burung kenari melayu dalam daftar yang dilindungi.

Bunyi Peraturan Menteri LHK Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 untuk (Kenari Melayu / Kenari Gunung)

Dilansir dari news.detik.com

Setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut hingga memperjualbelikan burung-burung itu. Pelanggar bisa dijatuhi sanksi maksimal 5 tahun dan denda Rp 100 juta. Yang lalai bisa dipidana maksimal 1 tahun dan denda Rp 50 juta.

Nah lo



Masih ngotot untuk memiliki burung kenari gunung atau melayu ini?

Oke, itu adalah informasi terbaru untuk kicau mania agar lebih hati-hati dalam memilih burung.

Jangan sampai hoby membuat kita berurusan dengan hukum.

Deskripsi Lengkap Burung Kenari Gunung

Bagi penggemar sejati burung kenari, dan sudah kawakan bermain burung kenari, maka sesekali mungkin pernah melihat dengan mata kepala sendiri ciri ciri burung ini.

Akan tetapi tidak untuk penggemar kenari baru

Untuk itu, berikut ini adalah penjelasan lengkap ciri fisik, habitat, makanan, suara, hingga sub spesies kenari melayu lain yang telah teridentifikasi.



Selain populer dengan sebutan kenari melayu, jenis kenari ini juga dikenal dikalangan kicau mania dengan nama kenari gunung.

Sedangkan dalam bahasa asing lazimnya disebut dengan nama :

Bahasa Inggris : Mountain serin

Bahasa French: Serin malais

Bahasa German: Malaiengirlitz

Spanish: Serín montano

Sedangkan nama ilmiah atau nama latinya Chrysocorythus estherae.

Klasikasi Ilmiah Burung Kenari Gunung

Dilansir dari en.wikipedia.org

KingdomAnimalia
PhylumChordata
ClassAves
OrderPasseriformes
FamilyFringillidae
SubfamilyCarduelinae
GenusChrysocorythus (Wolters, 1967)
SpeciesC. estherae
Binomial nameChrysocorythus estherae

 

Habitat, Jenis / sub spesies, Ciri Ciri, Makanan Dan Status Burung Kenari Gunung

Seperti dijelaskan di atas kalau burung kenari gunung ini adalah asli Indonesia, akan tetapi tidak semua pulau di Indonesia adalah persebaranya.

Habitat dan Jenis / Sub Spesies Kenari Gunung

Sulawesi, Sumatera, dan Jawa merupakan pulau-pulau persebaran burung kenari gunung atau melayu ini.

Jenis burung kenari melayu ini ada 4 spesies yang ditemukan di Indonesia, yaitu:



  • 1. Serinus estherae vanderbilti (Meyer de Schauensee, 1939) – Sumatra Selatan (Gunung Leuser).
Gambar Kenari Melayu-Serinus estherae vanderbilti
Gambar Kenari Melayu-Serinus estherae vanderbilti By : orientalbirdimages.org
  • 2. Serinus estherae estherae (Finsch, 1902) – Jawa Barat ( Gunung Pangrango )
Kenari Melayu-Serinus estherae estherae
Gambar Kenari Gunung atau Melayu-Serinus estherae estherae By : orientalbirdimages.org
  • 3. Serinus estherae orientalis (Chasen, 1940) – Jawa Timur ( Gunung Tengger dan Wayang ).
  • 4. Serinus estherae renatae (Schuchmann & Wolters, 1982) – Sulawesi Selatan ( GUnung Rantekombola).

Kebiasaan burung kenari gunung ini pada umumnya hidup menyendiri, meskipun berkelompok hanya dalam jumlah kecil.

Kesukaan burung kenari gunung ini hinggap pada pucuk-pucuk semak yang ada di padang rumput zona subalpin maupun hutan lumut dan burung ini juga sering turun ke tanah.

Ketika semak-semak bubukuan (Strobilanthus cernua) mulai berbuah, maka kenari gunung akan berada di semak tersebut untuk memakan buahnya.

Selain ditemukan di Indonesia, sub spesies lain kenari gunung juga ditemukan di Filipina.

Serinus estherae mindanensis (Ripley & Rabor, 1961) – Mindanao di Pilipina

Ciri Ciri Kenari Gunung Atau Melayu
Gambar Kenari Melayu Jantan
Gambar Kenari Gunung atau Melayu Jantan By : orientalbirdimages.org

Kenari Gunung Atau Melayu ini termasuk jenis burung kecil, panjangnya 11 cm hingga 12cm.

Burung kenari gunung berwarna kuning dan abu-abu.

Sedangkan untuk burung jantan memiliki dahi dan dada berpita kuning dan bercoret hitam.

Tunggir burung jantan kuning terang, sayapnya hitam dengan tiga garis kuning menyilang dan pinggir putih pada bulu sekunder.

Tengkuk dan mantelnya berwarna abu-abu, tenggorokan hitam, dan perut putih bercoret hitam.

Gambar Kenari Melayu Betina
Gambar Kenari Gunung atau Melayu Betina By : orientalbirdimages.org

Burung betina mirip dengan burung kenari jantan, akan tetapi tunggir kuningnya lebih suram serta dadanya kurang berbintik.

Baik kenari gunung jantan maupun betina irisnya berwarna coklat, paruhnya kecoklatan dan kaki mereka berwarna hitam.

Makanan Burung Kenari Gunung atau Melayu

Makanan burung kenari gunung sebagian besar tidak diketahui, dilihat dari bentuk paruhnya mungkin beragam biji dan buah kecil.

Kebiasaanya mencari makan di semak-semak rendah atau vegetasi lain dan di tanah

Status Burung Kenari Gunung Atau Melayu

Dulu burung kenari ini belum berstatus dilindungi, dan seperti penjelasan di atas, bahwasanya burung ini dilindungi oleh pemerintah saat ini.

Seperti tercantum pada Peraturan Menteri LHK Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018.

Selain kenari gunung atau melayu ini, juga ada beberapa jenis burung yang mulai langka dan sekarang dilindungi oleh pemerintah.

Seperti misalnya burung kacamata Jawa alias pleci (Zosterops flavus), burung opior Jawa (Heleia javanica), dan burung gelatik Jawa (Lonchura orzivora).

Vidio Burung Kenari Gunung atau Melayu

Itulah burung yang mulai langka dan kita musti menghindarinya agar tidak berurusan dengan hukum.



Selain itu, membiarkanya tetap hidup di alam adalah salah satu upaya melestarikan burung mungil yang cantik ini.


loading...

3 Comments

Add a Comment